Pengertian Pendidikan Inklusif

Sampai saat ini dukungan terhadap pendidikan inklusi semakin berkembang, namun demikian pemahaman maupun pandangan terhadapnya masih relatif banyak perbedaan atau bahkan silang pendapat. Hal ini disebabkan oleh adanya pengertian pendidikan inklusi yang bersifat progresif, sehingga mengalami penyempurnaan secara terus menerus sejalan dengan semakin mendalamnya renungan orang terhadap praktik pelaksanan pendidikan inklusi itu sendiri. Mengapa kemudian batasan pengertian tentang pendidikan inklusi ini menjadi penting, karena akan mendasari prinsip-prinsip dan nilai-nilai pendidikan inklusi itu sendiri. Hal yang sangat nyata, banyak sekali masyarakat mengatakan bahwa pendidikan inklusi ini merupakan versi lain dari Pendidikan Luar Biasa. Pada hal, lima tahun setelah Salamanca UNESCO (2009:13) mengatakan bahwa pendidikan inklusi telah berkembang sebagai suatu gerakan untuk menantang kebijakan dan praktik ekslusi. Lahirnya Pendidikan Inklusi  salah satunya dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Sue Stubb (2002: 37) mengatakan, bahwa konsep pendidikan inklusif memiliki lebih banyak kesamaan dengan konsep yang melandasi ‘Pendidikan untuk Semua’, dan ‘Peningkatan mutu sekolah’.

Definisi mutakhir lain dari Ofsted yang dikutib dalam Ainscow (2001), mengatakan bahwa sebuah sekolah yang mempraktekkan pendidikan inklusif merupakan sekolah yang memperhatikan pengajaran dan pembelajaran, pencapaian, sikap dan kesejahteraan setiap anak. Selajunya dikatakan pula bahwa sekolah yang efektif adalah sekolah yang mempraktekkan pendidikan inklusif.

Definisi di atas menggambarkan sebuah model pendidikan inklusif yang mendasarkan pada berbagai konsep utama tentang suatu system, stakeholder, proses, dan sumberdayanya.

Konsep utama yang terkait dengan pendidikan inklusi adalah:

  1. Konsep-konsep tentang anak
  • Semua anak berhak memperoleh pendidikan di dalam sekolah.
  • Semua anak dapat belajar, dan siapa pun dapat mengalami kesulitan dalam belajar.
  • Semua anak membutuhkan dukungan untuk belajar.
  • Pengajaran yang terfokus kepada anak bermanfaat bagi semua anak.
  1. Konsep-konsep tentang system pendidikan dan persekolahan
  • Pendidikan lebih luas dari persekolahan formal.
  • System pendidikan yang fleksibel dan responsive.
  • Lingkungan pendidikan yang memupuk kemampuan dan ramah.
  • Peningkatan mutu sekolah-sekolah yang efektif.
  • Pendekatan sekolah yang menyeluruh dan kolaborasi antar mitra.
  1. Konsep-konsep tentang keberagaman dan diskriminasi
  • Memberantas diskriminasi dan tekanan untuk mempraktekkan eksklusifitas
  • Merespon/merangkul keberagaman sebagai sumber kekuatan, bukan masalah.
  • Pendidikan inklusif mempersiapkan siswa untuk masyarakat yang menghargai dan menghormati perbedaan.

Setting pembelajaran inklusif

Sebagai sekolah penyelanggara pendidikan inklusif, maka SMP Patmos melakukan hal-hal berikut

1. Anak Kelompok Mainstream

   Melihat pengertian tersebut, tentu dapat diketahui jika mainstream akan mengacu pada anak yang dapat melakukan aktivitas umum seperti anak normal lainnya; bangun pagi, pergi ke sekolah mandiri, makan siang, pulang sekolah sendiri.

Bagi anak kelompok ini guru tidak membedakan anak dengan muatan kurikulum yang ditentukan oleh pemerintah. Jadi anak belajar sesuai dengan ketentuan pemerintah baik dalam penilaian dan ketentuan ketuntasan minimal.

2. Anak Berkebutuhan Khusus

Untuk menangani anak berkebutuhan khusus maka setiap guru dan wali kelas bekerja sama dan memulai pembelajaran seluruh guru yang mengajar di sekolah patmos melakukan kegiatan-  kegiatan.

Identifikasi anak berkebutuhan khusus

Secara umum tujuan identifikasi adalah untuk menghimpun informasi apakah seorang anak mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, intelektual, social, emosional, dan/atau sensoris neurologis) dalam pertumbuhan/perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya (anak-anak normal), yang hasilnya akan dijadikan dasar untuk penyusunan program pembelajaran sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya.

Dalam rangka pendidikan inklusi, kegiatan identifikasi anak dengan kebutuhan khusus dilakukan untuk lima keperluan, yaitu: (1) penjaringan (screening), (2) pengalihtanganan (referal), (3) klasifikasi, (4) perencanaan pembelajaran, dan (5) pemantauan kemajuan belajar

Assesment anak berkebutuhan khusus

Asesmen adalah suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan anak, yang mana hasil keputusannya dapat digunakan untuk menentukan layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran. Dalam kegiatan ini wali kelas dan guru kelas mengundang orang tua siswa untuk interview dan berbincang bincang tentang anak dan membahas hasil  test IQ terakhir anak

Profil Siswa berkebutuhan khusus

Setelah melakukan identifikasi dan asesmen , maka guru menyusun profile siswa berdasarkan kondisi kesehatan terakhir anak, perkembangan akademik anak, kemandirian anak, perhatian orang tua terhadap anak dan perkembangan kerohanian anak. Profil siswa dalam hal ini sama juga dengan lebar observasi siswa ABK

 

Presentasi Profil Siswa ABK

Pada rapat kerja SMP Patmos, maka setiap wali kelas dan guru kelas wajib mempresentasikan setiap profil siswa berkebutuhan khusus kepada seluruh team yang ada didepan kepala sekolah dan Koordinator pendidikan. Hal ini bertujuan agar tidak ada satupun guru yang tidak mengetahui setiap perkembangan anak berkebutuhan khusus anak . disamping itu , setiap guru dapat menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki anak terebut untuk dapat dikembangkan dan dipromosikan dalam ajang kegiatan lomba.